Mari Kita Buat MR Ball Yang Lebih Megah

Fauzi As pemerhati kebijakan publik.

Oleh: Fauzi As

Saya juga membayangkan para kiai yang selama puluhan tahun mengajar di surau-surau kecil.

Bacaan Lainnya

Menghabiskan usia mereka untuk membimbing masyarakat.

Mengajari anak-anak membaca Al-Qur’an.

Membangunkan umat untuk salat Subuh.

Menanamkan rasa malu, adab, dan kehormatan.

Ternyata para pengasuh pesantren itu kalah bersaing dengan pengusaha hiburan malam dan lampu disko.

Kalah bersaing dengan musik yang lebih keras.

Kalah bersaing dengan hiburan yang menawarkan kesenangan instan.

Betapa berat rasanya menjadi kiai di zaman seperti ini.

Sebab yang mereka tanam bertahun-tahun bisa dicabut hanya dalam beberapa malam.

Dan yang lebih menyedihkan adalah para orang tua. Mereka bekerja dari pagi hingga petang.

Ada yang ke sawah.

Ada yang melaut.

Ada yang berjualan di pasar.

Mereka menahan panas, menahan lapar, dan menahan lelah agar anak-anaknya memiliki masa depan yang lebih baik daripada mereka.

Tetapi ketika malam tiba, sebagian hasil keringat itu mungkin berubah menjadi tiket hiburan, minuman, atau kesenangan sesaat yang habis sebelum matahari terbit.

Lalu seorang ayah duduk di teras rumah.

Menunggu anaknya pulang.

 

Jam sepuluh malam belum pulang.

Jam dua belas malam belum pulang.

Jam dua pagi belum pulang.

Sampai akhirnya adzan Subuh berkumandang.

Dan ayah itu masih terjaga.

Bukan karena sedang beribadah.

Tetapi karena sedang cemas.

Mungkin itulah yang tidak pernah masuk dalam laporan pertumbuhan ekonomi.

Air mata seorang ayah tidak pernah tercatat dalam statistik.

Kecemasan seorang ibu tidak pernah masuk dalam laporan pembangunan.

Dan rasa malu seorang keluarga ketika anaknya terseret pergaulan buruk juga tidak pernah muncul dalam dokumen APBD.

Padahal di situlah sesungguhnya harga yang harus dibayar.

Sebuah daerah tidak pernah hancur karena kekurangan gedung.

Tidak pernah runtuh karena kekurangan lampu.

Tidak pernah gagal karena kekurangan tempat hiburan.

Sebuah daerah runtuh ketika generasinya kehilangan arah.

Ketika mengingatkan dianggap gangguan.

Ketika adab dianggap kuno.

Ketika agama dianggap penghalang kesenangan.

Dan ketika para tokoh memilih diam karena takut, bahkan takut dianggap tidak modern.

Karena itulah, jika memang semua ini dianggap baik, mari kita dukung sekalian.

Mari kita bangun MR Ball yang lebih besar.

Lebih megah.

Lebih meriah.

Kalau perlu lebih megah daripada pesantren.

Lebih ramai daripada masjid.

Lebih terkenal daripada sekolah.

Agar kelak, ketika kita bertanya mengapa narkoba semakin dekat dengan anak-anak kita, mengapa keluarga semakin rapuh, mengapa moral semakin murah, dan mengapa generasi muda semakin kehilangan pegangan hidup, kita tidak perlu bingung mencari penyebabnya.

Kita cukup melihat ke belakang.

Mungkin semuanya bermula ketika masyarakat mulai takut disebut kolot.

Dan lebih takut kehilangan hiburan daripada kehilangan generasinya sendiri.

Itulah saat sebuah daerah sebenarnya sedang kalah.

Bukan kalah oleh peringkat kemiskinan.

Bukan kalah oleh keterbelakangan.

Tetapi kalah karena perlahan-lahan kehilangan keberanian untuk menjaga anak-anaknya sendiri.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *