Foto : bupati didampingi kepala desa, sebelum dimulainya pagelaran
Bagiberita.id, Tulungagung — Plt. Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin hadiri Bersih Desa Ngranti, Kecamatan Boyolangu – Tulungagung, yang ditandai dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk, Selasa malam (7/7/2026).
Dengan mengusung lakon “Wahyu Katentreman”. Kegiatan tersebut menjadi wujud pelestarian budaya sekaligus ungkapan rasa syukur masyarakat atas nikmat dan keselamatan yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.
Bertempat di balai desa setempat, acara juga dihadiri Kepala Desa Ngranti beserta jajaran Pemerintah Desa, Forkopimcam Boyolangu, BPD, Ketua RT/RW, karyawan desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, PKK serta dalang Ki Eko Prisdianto bersama seluruh kru.
Antusiasme masyarakat terlihat dari banyaknya warga yang memadati lokasi pagelaran hingga larut malam.
Dalam sambutannya, Ahmad Baharudin mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga tradisi warisan leluhur sebagai bagian dari identitas budaya yang harus dilestarikan.Pemerintah
“Alhamdulillah, malam ini kita masih diberikan kesehatan sehingga dapat berkumpul menyaksikan pagelaran wayang kulit dalam rangka Bersih Desa Ngranti. Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Kepala Desa beserta seluruh masyarakat yang terus menjaga dan melestarikan seni budaya Jawa,” ujar Ahmad Baharudin.
Ia melanjutkan, melalui kegiatan Bersih Desa diharapkan masyarakat Desa Ngranti senantiasa hidup rukun, damai, dan tenteram. Selain itu, tradisi ini juga menjadi doa bersama agar seluruh warga dijauhkan dari berbagai musibah serta senantiasa diberikan keselamatan dan keberkahan.
“Semoga Desa Ngranti selalu menjadi desa yang aman, harmonis, dan penuh keberkahan. Mari kita terus menjaga persatuan, memperkuat gotong royong, serta melestarikan budaya yang menjadi warisan leluhur,” lanjut dia.
Mengakhiri sambutannya, Plt. Bupati Ahmad Baharudin menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dan masyarakat yang telah bergotong royong menyukseskan rangkaian Bersih Desa. Menurutnya, kegiatan budaya seperti pagelaran wayang kulit tidak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi, memperkuat nilai-nilai kebersamaan, dan menjaga kearifan lokal agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.(Lukman)







