Skeptis Terhadap Kedekatan Fauzi Wongsojudo Dengan Pemuda Menjelang Pilkada

- Redaksi

Minggu, 20 Oktober 2024 - 17:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Rudi Hermawan

Menjelang Pilkada, kedekatan Fauzi Wongsojudo dengan kalangan pemuda mulai terlihat semakin intens. Fauzi, yang sebelumnya tidak begitu menonjol dalam aktivitas kepemudaan, tiba-tiba muncul dengan berbagai program yang mengklaim bertujuan untuk memberdayakan kaum muda. Namun, saya merasa skeptis terhadap manuver ini, mengingat pendekatan Fauzi tampak lebih politis daripada murni didasari oleh keinginan tulus untuk memajukan pemuda. Fenomena ini tampaknya lebih seperti langkah strategis dalam rangka menarik suara pemuda, ketimbang upaya jangka panjang yang nyata.

Salah satu alasan utama skeptisisme ini adalah waktu kemunculannya. Dekatnya Fauzi dengan pemuda baru terasa intens menjelang Pilkada, saat dia sangat membutuhkan dukungan suara. Sebelumnya, tidak banyak aktivitas yang mengindikasikan adanya perhatian serius dari Fauzi terhadap permasalahan pemuda. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah kedekatannya dengan pemuda adalah bagian dari strategi elektoral atau benar-benar didorong oleh kepedulian terhadap masa depan generasi muda.

Program-program yang diluncurkan Fauzi, meski terdengar ambisius, tampaknya kurang memiliki landasan yang kuat. Misalnya, beberapa inisiatif pelatihan keterampilan dan kewirausahaan yang ia tawarkan, meskipun penting, terkesan sebagai langkah simbolis tanpa strategi yang berkelanjutan. Banyak dari program tersebut juga diluncurkan tanpa adanya perencanaan yang jelas mengenai bagaimana mereka akan berlanjut setelah Pilkada usai. Ini semakin memperkuat pandangan bahwa pendekatan Fauzi terhadap pemuda mungkin hanyalah taktik jangka pendek.

Penting untuk mempertanyakan sejauh mana Fauzi memahami kebutuhan sebenarnya dari pemuda. Selama ini, diskursus Fauzi seputar pemuda sering kali terbatas pada topik-topik umum seperti kewirausahaan, tanpa menyentuh permasalahan struktural yang lebih mendalam seperti akses terhadap lapangan pekerjaan, masalah kesehatan mental, atau minimnya keterwakilan pemuda dalam pengambilan keputusan. Hal ini mengindikasikan bahwa pendekatan Fauzi terhadap pemuda masih bersifat permukaan.

Kedekatan Fauzi dengan pemuda juga sepertinya lebih terfokus pada aspek-aspek yang memberikan keuntungan elektoral baginya. Terlihat dari pemilihan kelompok pemuda yang ia dekati, sebagian besar adalah mereka yang secara politis dapat mendongkrak popularitasnya. Sementara itu, kelompok-kelompok pemuda yang lebih kritis terhadap kebijakannya justru tidak banyak dilibatkan dalam dialog atau diskusi. Ini menunjukkan bahwa keterlibatan Fauzi dengan pemuda tidak sepenuhnya inklusif dan hanya berfokus pada mendapatkan dukungan politik.

Di sisi lain, sebagian pemuda mungkin merasa terbuai dengan perhatian yang diberikan Fauzi, terutama mereka yang merasa kurang mendapatkan kesempatan dari pemimpin sebelumnya. Namun, penting bagi para pemuda untuk tetap kritis dan mempertanyakan motif di balik tindakan-tindakan politisi menjelang Pilkada. Sebuah program tidak boleh hanya dinilai dari janji-janji awalnya, tetapi juga dari kesinambungan dan dampak jangka panjangnya terhadap kehidupan pemuda.

Tentu saja, saya tidak bermaksud meremehkan potensi program yang diinisiasi oleh Fauzi. Jika diimplementasikan dengan baik, program-program tersebut bisa saja memberikan manfaat nyata bagi pemuda. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa pendekatan politisi terhadap pemuda menjelang Pilkada sering kali hanya bersifat temporer dan berakhir begitu periode kampanye selesai. Oleh karena itu, pemuda harus tetap kritis dan memastikan bahwa kepentingan mereka diakomodasi secara serius, bukan hanya dijadikan alat politik.

Akhirnya, skeptisisme saya terhadap kedekatan Fauzi Wongsojudo dengan pemuda bukan hanya berdasarkan pada waktu kemunculannya yang tiba-tiba, tetapi juga pada ketidakjelasan visi jangka panjang. Jika Fauzi benar-benar ingin memberdayakan pemuda, maka ia harus menunjukkan komitmen yang lebih dari sekadar kampanye menjelang Pilkada. Pemuda membutuhkan pemimpin yang bisa memberikan solusi nyata dan berkelanjutan, bukan sekadar janji-janji manis menjelang pemilihan.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel bagiberita.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun
Jaksa dan Polri Bugil di Tengah Jalan
Penjahat Bernama Prabowo
Presiden! KEK Tembakau: Jalan Pulang Ekonomi Madura
Mari Kita Buat MR Ball Yang Lebih Megah
Wakil Bupati atau Pajangan Serambi
Tanah, Batalyon, dan Aroma Politik Parpol
Madura Tidak Pernah Tamat

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 11:26 WIB

Polresta Sumenep: Pangkat Naik, Pintu Informasi Turun

Senin, 13 Juli 2026 - 15:28 WIB

Jaksa dan Polri Bugil di Tengah Jalan

Jumat, 12 Juni 2026 - 16:22 WIB

Penjahat Bernama Prabowo

Kamis, 4 Juni 2026 - 12:13 WIB

Presiden! KEK Tembakau: Jalan Pulang Ekonomi Madura

Minggu, 31 Mei 2026 - 19:25 WIB

Mari Kita Buat MR Ball Yang Lebih Megah

Berita Terbaru

Ekonomi

Plt Bupati Tulungagung Apresiasi Petani Tulungagung

Sabtu, 25 Jul 2026 - 14:52 WIB

Pemerintahan

Rapat Paripurna DPRD Tulungagung Bahas Empat Agenda Strategis

Kamis, 23 Jul 2026 - 15:42 WIB

RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep

Kesehatan

Mutu RSUD Sumenep Tembus 90 Persen

Rabu, 22 Jul 2026 - 04:18 WIB

Kesehatan

RSUD Moh Anwar Perkuat Pelayanan Berkualitas

Rabu, 22 Jul 2026 - 04:13 WIB