Bagiberita.id, Sumenep – Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI), program Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air dengan dana APBN, diduga menjadi sasaran korupsi. Program ini yang bertujuan untuk meningkatkan jaringan irigasi berbasis partisipasi masyarakat di Kabupaten Sumenep, dikabarkan telah mengalami pemangkasan anggaran oleh oknum tertentu.
Informasi yang dihimpun oleh media ini menyebutkan bahwa anggaran P3-TGAI di Sumenep diduga dipotong hingga 35 persen oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Pemotongan besar ini disinyalir berdampak langsung pada kualitas hasil pekerjaan, yang akhirnya tak memenuhi spesifikasi yang ditetapkan dalam program. (27/10).
“Saat uang dicairkan dari bank, langsung dipotong 35 persen dan diberikan secara tunai kepada tenaga ahli (TA) yang diduga dikendalikan oleh seseorang berinisial K,” ungkap sumber terpercaya. Ia menyampaikan, modus pemotongan ini telah berlangsung secara sistematis dan terkoordinasi, melibatkan pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan situasi tersebut.
Setiap proyek P3-TGAI di masing-masing kecamatan menerima anggaran sebesar Rp 195 juta dengan volume pekerjaan yang sudah ditentukan. Namun, besarnya pemotongan yang dilakukan oleh oknum diduga tenaga ahli tersebut membuat banyak penerima manfaat merasa terbebani.
Sumber yang sama menyatakan kekecewaannya atas besarnya potongan anggaran, yang menurutnya akan sangat mempengaruhi kualitas pekerjaan yang dapat diselesaikan. “Dengan potongan ini, pekerjaan tidak akan maksimal. Kalau tidak untung, ya rugi, Mas. Saya cuma dapat sisa-sisanya saja,” ujar sumber tersebut dengan nada kecewa pada Jumat, 25 Oktober 2024.
Penelusuran lebih lanjut oleh tim investigasi, menemukan bahwa dana APBN yang dialokasikan melalui P3-TGAI di Sumenep diduga menjadi ajang bagi oknum-oknum tertentu untuk mengambil keuntungan pribadi. “Anggaran ini tidak hanya dipotong oleh orang yang mengaku dekat dengan DPR-RI, tetapi pendamping kecamatan juga meminta bagian sebesar 10 persen per titik,” jelas sumber lainnya.
Saat awak media mencoba mengonfirmasi langsung kepada inisial K, ia tampak enggan menanggapi isu ini. “Kok malah tanya ke saya, coba saja ke KMB atau pendampingnya,” jawabnya singkat, mengelak.
Sementara itu, K juga menyebut bahwa ia hanya mengenal pendamping tenaga ahli P3-TGAI berinisial M. Namun, ketika ditanya lebih lanjut mengenai seberapa dekat hubungannya dengan M, K justru menyatakan ketidaktahuannya. “Saya tidak tahu lebih jauh, Mas, hanya sekadar tahu namanya saja,” pungkasnya.
Kasus ini mencuat menjadi perhatian publik, dan diharapkan ada tindakan lanjut dari pihak berwenang untuk menyelidiki dugaan korupsi yang merugikan masyarakat Sumenep tersebut. (RHN).