Madura Tidak Pernah Tamat

- Redaksi

Kamis, 11 Juni 2026 - 02:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Fauzi As

Hari ini, banyak orang mengira ini hanya tentang sepak bola. Tentang 90 menit pertandingan. Tentang skor 2-0. Tentang selamat atau tidaknya sebuah klub bernama Madura United.

Padahal tidak sesederhana itu.

Hari ini adalah hari di mana jantung Madura berdegup lebih kencang dari biasanya. Bukan karena bola bergulir, tetapi karena harga diri sedang dipertaruhkan.

Saya memilih tidak datang ke stadion. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena terlalu peduli. Ada momen ketika seseorang lebih memilih menjaga hatinya dari kemungkinan patah, daripada menyaksikan langsung kehancuran yang tak siap ia terima.

Bayangkan jika hari ini Madura United benar-benar tumbang.

Yang runtuh bukan hanya klub. Yang retak bukan hanya manajemen. Tetapi juga semangat kolektif yang selama ini diam-diam dirawat: bahwa orang Madura bisa bersatu tanpa harus berhadapan, bisa kompak tanpa harus carok, bisa dihormati tanpa harus ditakuti.

Selama bertahun-tahun, Madura terlalu sering didefinisikan oleh stigma. Keras, kasar, penuh konflik. Seolah-olah identitas itu diwariskan, bukan dibentuk oleh keadaan.

Di tengah narasi itu, sepak bola menjadi panggung perlawanan yang paling sunyi namun paling elegan.

Dan di balik panggung itu, ada satu nama yang tidak pernah lelah menghidupkan harapan: Achsanul Qosasi.

Sejak 2009, saya mendengar sendiri bagaimana ia berbicara tentang Madura. Tidak pernah setengah hati. Tidak pernah basa-basi. Selalu utuh. Selalu penuh keyakinan.

Baginya, Madura bukan sekadar pulau. Ia adalah potensi yang lama diparkir. Ia adalah kekuatan yang belum sepenuhnya dibangunkan.

Sepak bola, dalam pandangannya, bukan hiburan. Ia adalah alat. Alat untuk menguji solidaritas. Alat untuk mengukur sportivitas. Alat untuk membalik stigma.

Dan hari ini, alat itu bekerja.

Madura United tidak tamat. Ia bertahan. Menang 2-0. Bukan kemenangan yang gemerlap, tetapi kemenangan yang menyelamatkan wajah.

Dua gol Junior Brandao bukan sekadar angka. Ia seperti dua napas panjang yang dilepaskan bersamaan oleh jutaan orang Madura-yang sejak tadi menahan cemas, menahan takut, menahan kemungkinan terburuk.

Namun, justru di titik inilah kita harus jujur.

Apakah Madura akan terus bergantung pada sepak bola untuk merasa bersatu?

Apakah kita hanya solid ketika ada pertandingan, dan kembali tercerai ketika peluit panjang dibunyikan dalam kehidupan nyata?

Inilah pertanyaan yang lebih penting dari skor akhir.

Karena sejatinya, yang sedang diperjuangkan bukan hanya posisi di klasemen. Tetapi posisi Madura dalam peta besar Indonesia.

Kita adalah tanah yang melahirkan tokoh-tokoh besar:

Syaikhona Kholil bin Abdul Latif (Bangkalan): Ulama besar dan guru dari pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia (seperti NU dan Muhammadiyah) yang juga dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Mohammad Tabrani (Pamekasan): Tokoh pers, pejuang kemerdekaan, dan Ketua Kongres Pemuda I yang dikenal luas sebagai penggagas bahasa Indonesia.

Pangeran Trunojoyo (Sampang): Bangsawan Madura yang memimpin pemberontakan besar-besaran terhadap penjajahan VOC dan Mataram pada abad ke-17.

Mahfud MD. Ketua Mahkamah Agung. Ketua Banggar DPR RI.

Kita juga tanah yang menyuplai energi bagi negeri ini-migas yang mengalir, menerangi kota-kota yang bahkan tidak pernah mengenal kerasnya tanah garam.

Tetapi ironisnya, di saat yang sama, Madura masih sering ditempatkan di pinggiran.

Di sinilah peran Achsanul Qosasi menjadi penting-bukan sebagai pemilik klub, tetapi sebagai arsitek kesadaran.

Ia memahami satu hal yang sering dilupakan: bahwa kemajuan tidak dimulai dari proyek, tetapi dari cara berpikir.

Bahwa kemandirian tidak lahir dari bantuan seratus ribuan, tetapi dari keberanian untuk berdiri.

Dan bahwa kehormatan tidak datang dari jabatan, tetapi dari kemampuan menjaga martabat kolektif.

Sepak bola hanyalah pintu masuk. Di baliknya, ada gagasan yang jauh lebih besar: Madura Maju. Madura Mandiri. Madura sebagai tiang kokoh negara.

Namun, gagasan akan tetap menjadi wacana jika hanya berhenti pada satu orang.

Madura tidak kekurangan tokoh. Yang kurang adalah kesediaan untuk berjalan bersama tanpa saling menjatuhkan.

Hari ini, kita bersorak karena Madura United selamat.

Besok, pertanyaannya berbeda:

apakah Madura juga akan selamat dari kemiskinan struktural, dari ketergantungan, dari konflik internal yang seringkali kita pelihara sendiri?

Jika jawabannya tidak, maka kemenangan hari ini hanyalah penundaan dari kekalahan yang lebih besar.

Tetapi jika kita mampu menangkap pesan di balik pertandingan ini-bahwa persatuan itu mungkin, bahwa solidaritas itu nyata, bahwa stigma itu bisa dilawan-maka hari ini bukan sekadar kemenangan.

Ia adalah titik balik.

Madura tidak pernah benar-benar tamat.

Ia hanya sedang diuji: apakah ingin terus menjadi cerita lama yang penuh stereotip, atau bangkit menjadi kekuatan baru yang disegani.

Dan sejarah, seperti pertandingan hari ini, selalu berpihak pada mereka yang berani bertahan… lalu melangkah lebih jauh.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel bagiberita.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

AJS dan Kapolres Sumenep Jalin Silaturahmi Hangat di R
Bukber di Myze Hotel, Abd Aziz Salim Shabibi Santuni Anak Yatim
Masyarakat Sadar Medsos Sumenep Tegaskan Komitmen Tertib Bermedia Sosial, Tolak Provokasi dan Anarkisme di Medsos
Bettilt Sayesinde Akılcı Finansal Yönetim: Oyun Keyfinizi Devam Ettirme Yolları
Idul Adha 1446 H: Saatnya Belajar Ikhlas dan Peduli Lewat Qurban
Pulau Kangean Lebih Tua dari Madura? Ini Fakta Geologisnya
Mansa Musa: Penguasa Terkaya dan Terbesar di Sejarah Afrika
Dempo Abang dan Jokotole: Kisah Kearifan dan Keberanian dari Madura

Berita Terkait

Kamis, 11 Juni 2026 - 02:25 WIB

AJS dan Kapolres Sumenep Jalin Silaturahmi Hangat di R

Kamis, 11 Juni 2026 - 02:19 WIB

Madura Tidak Pernah Tamat

Sabtu, 14 Maret 2026 - 17:57 WIB

Bukber di Myze Hotel, Abd Aziz Salim Shabibi Santuni Anak Yatim

Senin, 22 September 2025 - 14:11 WIB

Masyarakat Sadar Medsos Sumenep Tegaskan Komitmen Tertib Bermedia Sosial, Tolak Provokasi dan Anarkisme di Medsos

Sabtu, 14 Juni 2025 - 02:06 WIB

Bettilt Sayesinde Akılcı Finansal Yönetim: Oyun Keyfinizi Devam Ettirme Yolları

Berita Terbaru

Ekonomi

Plt Bupati Tulungagung Apresiasi Petani Tulungagung

Sabtu, 25 Jul 2026 - 14:52 WIB

Pemerintahan

Rapat Paripurna DPRD Tulungagung Bahas Empat Agenda Strategis

Kamis, 23 Jul 2026 - 15:42 WIB

RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep

Kesehatan

Mutu RSUD Sumenep Tembus 90 Persen

Rabu, 22 Jul 2026 - 04:18 WIB

Kesehatan

RSUD Moh Anwar Perkuat Pelayanan Berkualitas

Rabu, 22 Jul 2026 - 04:13 WIB